Jakarta (ANTARA) – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bertemu dengan petinggi Microsoft di New York pada Rabu (23 September) waktu setempat untuk membahas strategi investasi lanjutan raksasa teknologi itu di Indonesia.
Pada tahun 2024, Microsoft mengumumkan komitmen untuk berinvestasi sekitar US$1,7 miliar di Indonesia. Meutya menekankan investasi tersebut harus memberikan manfaat jangka panjang bagi kapasitas teknologi negara.
“Kami berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar utama bagi Microsoft, tetapi juga sebagai hub strategis infrastruktur digital dan inovasi di kawasan,” kata Meutya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.
Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia memerlukan infrastruktur yang semakin tangguh, inklusif, dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri, ujarnya.
Oleh karena itu, pemerintah berharap Microsoft memandang Indonesia sebagai pusat regional untuk pengembangan infrastruktur digital dan inovasi, bukan sekedar pasar.
Selain itu, untuk peningkatan kapasitas nasional, kolaborasi dengan Microsoft diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang bagi institusi, pengembang, dan perusahaan teknologi Indonesia untuk membangun kemampuan dan memanfaatkan keahlian teknologi global.
Kemitraan ini mencakup kecerdasan buatan, teknologi cloud, keamanan siber, dan tata kelola teknologi yang bertanggung jawab.
Indonesia juga berupaya menyelaraskan pengembangan keterampilan digital dengan permintaan industri, memastikan bahwa talenta lokal mendapatkan akses terhadap peluang kerja dan kemajuan karir di sektor digital.
“Tujuan kami tidak hanya untuk meningkatkan jumlah individu yang terampil secara digital, tetapi juga untuk mencetak lebih banyak pengembang, inovator, insinyur, dan pemimpin digital Indonesia,” jelas Meutya.
Terkait pengembangan AI, Menkeu menguraikan langkah Indonesia dalam menciptakan kerangka tata kelola AI nasional melalui rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan dan Etika AI.
Kerangka kerja ini bertujuan untuk memberikan pedoman yang jelas untuk pengembangan AI yang etis, aman, inklusif, dan bertanggung jawab.
“Kami ingin memastikan peraturan tersebut tidak menghambat inovasi, namun memberikan perlindungan dan kepastian yang diperlukan agar pengembangan AI dapat berjalan secara bertanggung jawab,” ujarnya.
Pembahasan juga mencakup perlindungan anak online dan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Sistem Elektronik Perlindungan Anak (PP TUNAS).
Meutya meminta Microsoft untuk memperkuat kolaborasi dengan mengadopsi prinsip-prinsip keselamatan sesuai desain dan memajukan pengembangan teknologi yang bertanggung jawab.
“Kami ingin memperdalam komitmen Microsoft kepada Indonesia melalui investasi infrastruktur digital, transfer teknologi dan pengetahuan, pengembangan bakat digital, serta kolaborasi yang lebih kuat untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi anak-anak Indonesia,” ujarnya.
Kemitraan Indonesia dengan raksasa teknologi ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap visi Indonesia Emas 2045 dengan meningkatkan kemampuan digital dan daya saing bangsa.
Pewarta: Livia Kristianti, Raka AdjiEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


