Seruan reformasi tumbuh menjelang pidato kenegaraan Prabowo – Politik

Segala upaya untuk melakukan reformasi politik dan kelembagaan semakin intensif menjelang pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto yang sangat dinanti-nantikan, dengan pidato terbaru dari para akademisi yang memperingatkan akan semakin dalamnya krisis nasional dan demokrasi.

Puluhan akademisi dan intelektual dari Forum Intelektual Interdisipliner (FIAD), sebuah kolektif intelektual independen, berkumpul di Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta Pusat pada hari Kamis untuk meluncurkan manifesto setebal 16 halaman, yang menguraikan serangkaian tuntutan tiga tahap untuk menjadikan Indonesia “negara yang adil, demokratis, berdaulat, dan berkelanjutan”.

Among those involved in the manifesto were University of Indonesia (UI) professors Manneke Budiman, Sulistyowati Irianto and Theddeus OH Prasetyono, Bandung Institute of Technology (ITB) astronomy professor Premana Premadi, Gadjah Mada University (UGM) sociologist Arie Sudjito and writer Okky Madasari.

Kelompok ini menyoroti apa yang mereka gambarkan sebagai “penurunan kualitas tata kelola negara” sebagai akar penyebab tantangan yang dihadapi negara saat ini. Beberapa permasalahan yang mendasarinya mencakup kesenjangan yang semakin besar antara kebijakan pemerintah dan prinsip-prinsip konstitusi serta pengambilan keputusan yang semakin terpusat.

Baca juga: Masalah Demokrasi Indonesia Bukan Kemunduran, Tapi Fondasinya Lemah

Sebagai bagian dari tahap pertama reformasi negara, kelompok ini menyerukan diakhirinya “kehancuran demokrasi”, menuntut pemerintahan Prabowo menghentikan praktik inkonstitusional dalam pemerintahan dan memulihkan independensi lembaga-lembaga utama negara untuk mendukung supremasi hukum pada tahun depan.

Setiap Senin, Rabu dan Jumat pagi.

Dikirim langsung ke kotak masuk Anda tiga kali seminggu, pengarahan yang dikurasi ini memberikan gambaran singkat tentang isu-isu terpenting hari ini, yang mencakup berbagai topik mulai dari politik hingga budaya dan masyarakat.

untuk mendaftar buletin kami!

Silakan periksa email Anda untuk berlangganan buletin Anda.

Lihat Buletin Lainnya

“Hentikan praktik pemerintahan yang bertentangan dengan Konstitusi dan kembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga publik,” kata pakar konstitusi Bivitri Susanti, yang juga menjadi anggota forum tersebut. “Agenda ini dimaksudkan untuk meletakkan landasan bagi reformasi yang lebih mendalam pada tahap berikutnya.”