Pabrikan Perancis Atasi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Indonesia

TEMPO.CO, Jakarta – Pabrikan pesawat ATR di Toulouse, Prancis, telah menyikapi insiden yang melibatkan Indonesia Air Transport ATR 42-500. Pesawat berregistrasi PK-THT itu hilang kontak saat hendak mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Sabtu sore, 17 Januari 2026.

Dalam siaran pers yang dimuat di situs resminya, ATR menyampaikan keprihatinan mendalam kepada seluruh pihak yang terkena dampak. “ATR telah diberitahu bahwa telah terjadi kecelakaan di Indonesia yang melibatkan ATR 42-500,” tulis ATR seperti dikutip Minggu 18 Januari 2026.

ATR juga menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan pihak berwenang Indonesia untuk mengungkap penyebab kecelakaan tersebut. “Para spesialis ATR sepenuhnya terlibat untuk mendukung penyelidikan yang dipimpin oleh pihak berwenang Indonesia dan operator,” katanya.

Pesawat ATR 42-500 itu membawa tujuh awak dan tiga penumpang saat hilang kontak kemarin sore. Penerbangan itu menuju Makassar dari Yogyakarta.

The crew on board included Captain Andy Dahananto, Co-pilot Farhan Gunawan, Flight Operation Officer Hariadi, Engineers Restu Adi P and Dwi Murdiono, as well as cabin crew members Florencia Lolita and Esther Aprilita S.

Sedangkan ketiga penumpang tersebut merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang melakukan pengawasan udara terhadap sumber daya kelautan dan perikanan di perairan Indonesia. Ketiga pegawai tersebut adalah Ferry Irawan yang menjabat sebagai Analis Kapal, Deden Mulyana yang merupakan manajer aset negara, dan Yoga Naufal yang merupakan operator foto udara.

Pada Minggu pagi, jenazah dan ekor pesawat ditemukan di lereng Puncak Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Andi Sultan, Kepala Operasi dan Kewaspadaan Basarnas Makassar, mengatakan bagian utama pesawat tersebut pertama kali dilaporkan oleh awak pesawat AI-7301 (Boeing 737-200) dan H-2213 (Caracal H225M).

Tim penyelamat menyiapkan jalur pendakian sebagai evakuasi utama ATR 42-500. Jalur ini dianggap paling aman dan mudah diakses dibandingkan jalur lain yang lebih dekat namun lebih curam.

Andi Sultan menyebutkan, rencana evakuasi akan dilakukan setelah tim mencapai koordinat badan dan ekor pesawat.

Dani Aswara berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Baca: Indonesia Air Transport Pastikan 7 Awak Pesawat ATR 42-500

Klik di sini untuk mendapatkan update berita terkini dari Tempo di Google News