Indonesia Harus Menjadi Platform Ekonomi Olahraga di Dunia Selatan

Oleh: Teguh Anantawikrama, Pendiri dan Ketua Indonesia Tourism Investor Club dan Wakil Ketua Kadin Indonesia

Rabu, 18 Februari 2026, 22:06 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta –

Pada tahun 2050, ekonomi olahraga global diproyeksikan mencapai US$8,8 triliun. Ini bukan sekadar ramalan tentang permainan dan turnamen. Hal ini menandakan konvergensi sektor manufaktur, pariwisata, ekosistem digital, keuangan, dan gaya hidup menjadi salah satu sektor ekonomi terkuat abad ini.

Bagi Indonesia, momen ini memerlukan kejelasan strategis.

Kita tidak boleh hanya bertujuan untuk berpartisipasi.

Kita harus bertujuan untuk menjadi platform ekonomi olahraga di Dunia Selatan.

Dari Penyelenggara Acara hingga Pembangun Ekosistem

Indonesia telah menunjukkan kemampuannya menjadi tuan rumah event olahraga global. Kesuksesan MotoGP Mandalika di Mandalika dan F1 Powerboat Danau Toba menegaskan bahwa kita memiliki infrastruktur, koordinasi, dan kepercayaan global yang diperlukan untuk menyelenggarakan kompetisi kelas dunia.

Namun, menjadi tuan rumah acara saja tidak menciptakan kekuatan ekonomi yang bertahan lama. Suatu negara menjadi sebuah platform ketika ia membangun ekosistem permanen di sekitar acara tersebut, pusat pelatihan, lembaga ilmu olahraga, klaster manufaktur, studio media digital, koridor pariwisata, dan mekanisme pembiayaan yang beroperasi sepanjang tahun.

Kita harus beralih dari penyedia tempat menjadi orkestra nilai.

Mengubah Manufaktur menjadi Kepemilikan Merek

Indonesia termasuk salah satu eksportir alas kaki olahraga terkemuka di dunia. Namun sebagian besar peran kami masih terkonsentrasi pada kontrak manufaktur.

Ini harus berkembang.

Kita perlu beralih secara tegas dari “Made for the World” ke “Made by Indonesia.” Hal ini berarti mendukung merek-merek Indonesia untuk bersaing secara regional dan global, berinvestasi dalam desain dan kekayaan intelektual, serta membangun kapasitas penelitian dalam bahan-bahan yang ramah lingkungan.

Dunia Selatan, yang mencakup ASEAN, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin, mewakili basis konsumen dengan pertumbuhan tercepat. Pasar-pasar ini mencari keterjangkauan, daya tahan, dan keselarasan budaya. Indonesia memiliki posisi yang unik untuk memenuhi permintaan ini, dengan memanfaatkan skala manufaktur dan wawasan demografis kita.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.